Seringkali seseorang dengan diabetes
sangat terpengaruh oleh cerita tentang pengalaman orang lain yang juga
mengalami diabetes bahwa dengan menjalani puasa Ramadhan orang tersebut akan
merasa lebih sehat dari sebelumnya. Pengalaman orang lain tersebut, selayaknya
harus disikapi secara bijaksana oleh orang yang mengalami diabetes. Keputusan
untuk tetap menjalankan ibadah puasa pada akhirnya memang merupakan keputusan
pribadi.
Namun seringkali disayangkan karena
pada umumnya keputusan tesebut semata-mata diambil atas dasar keinginan untuk
menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa dilengkapi dengan pemahaman mengenai
bahaya yang mungkin timbul selama berpuasa. Kemungkinan timbulnya resiko
tersebut memang sangat tergantung dari kondisi kesehatan setiap orang, seperti
tinggi rendahnya kadar gula darah, pengobatan diabetes yang digunakan ataupun
adanya penyakit lain yang mungkin menyertai. Oleh karena itu pemeriksaan secara
medis sangat diperlukan bagi setiap orang yang mengalami diabetes sebelum
memutuskan untuk berpuasa.
Secara umum, hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam perencanaan berpuasa bagi orang yang mengalami diabetes
adalah sebagai berikut:
Personal. Perencanaan puasa merupakan hal
yang harus dirancang berdasarkan kondisi setiap individu. Setiap orang yang
mengalami diabetes memiliki kondisi diabetes yang unik sehingga sangat
berbahaya untuk menerapkan pengalaman berpuasa orang lain kepada diri sendiri.
Perbedaan pengobatan yang dijalani oleh seseorang dengan diabetes merupakan
salah satu contoh dari keunikan tersebut. Oleh karena itu penting bagi orang
diabetes untuk memahami obat-obatan apa yang digunakan selama ini, bagaimana
cara kerjanya dan efeknya termasuk pengaruh obat tersebut selama berpuasa.
Memeriksa
gula darah lebih sering.
Untuk tujuan pemantauan resiko adanya hipoglikemi dan hiperglikemi selama
puasa, seseorang dengan diabetes harus lebih sering memeriksakan gula darahnya.
Diet.Pada prinsipnya diet selama bulan
puasa harus sama dengan diet sehari-hari, yaitu diet dengan menu seimbang
dengan perhitungan kalori yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Juga
disarankan untuk banyak minum pada malam hari dan memastikan bahwa makan sahur
dilakukan seakhir atau selambat mungkin sebelum Imsyak tiba.
Aktifitas. Aktifitas normal sehari-hari perlu
diperhatikan. Bagi orang dengan diabetes, kegiatan fisik yang berlebihan selama
berpuasa dapat menyebabkan hipoglikemi sehingga harus dihindari. Shalat Taraweh
merupakan salah satu contoh tambahan kegiatan fisik yang dilakukan selama bulan
puasa dan perlu diwaspadai dapat menyebabkan timbulnya hipoglikemi. Oleh karena
itu disarankan untuk makan seimbang sebelum shalat Taraweh.
Berbuka
puasa. Orang dengan diabetes yang
berpuasa harus segera membatalkan puasanya jika merasakan adanya gejala
hipoglikemi. Disarankan agar orang diabetes selalu menyediakan bekal makanan
dan minuman yang mengandung karbohidrat sederhana (karbohidrat yang dapat
diolah secara cepat menjadi gula di dalam tubuh, misalnya air yang mengandung
gula, jus, atau roti putih) untuk segera dikonsumsi saat merasakan gejala
hipoglikemi atau segera membatalkan puasa pada saat Magrib tiba. Hal ini sesuai
dengan seruan Nabi yang berbunyi, ” “Senantiasa manusia itu dalam kebaikan
selama mereka menyegerakan berbuka.” (H.R. Bukhori dan Muslim).
Medical
check up Pra-Ramadan.
Semua orang dengan diabetes yang berkeinginan untuk tetap berpuasa selama bulan
Ramadhan sangat disarankan untuk menjalani pemeriksaan dan berkonsultasi kepada
dokter ahli diabetes. Dokter terutama akan memeriksa pola kadar gula darah,
tekanan darah, kadar kolesterol, fungsi ginjal dan fungsi hati. Melalui
pemeriksaan ini akan diketahui apakah seorang dengan diabetes dapat berpuasa
secara aman, seberapa besar resiko yang mungkin terjadi jika berpuasa, dan
dokter akan melakukan penyesuaian dosis dan waktu penggunaan obat-obatan dan
insulin untuk mengurangi resiko akibat berpuasa.
Edukasi
dan Konseling. Selain
melakukan pemeriksaan medis dengan dokter ahli diabetes, orang dengan diabetes
perlu berkonsultasi kepada edukator diabetes seperti ahli gizi dan perawat
edukator diabetes mengenai perawatan mandiri selama berpuasa, diantaranya
adalah mengenai tanda dan gejala hipo/hiperglikemi, pemantauan gula darah,
perencanaan makanan dan kegiatan sehari-hari selama berpuasa. Walaupun di
Indonesia belum menjadi kebiasaan umum, orang dengan diabetes sangat disarankan
untuk menggunakan gelang pengenal sebagai orang diabetes, sehingga jika terjadi
sesuatu akan segera mendapatkan pertolongan yang tepat.
Sumber: Republika Online

Tidak ada komentar:
Posting Komentar