Minggu, 29 Juli 2012

Perencanaan Puasa untuk Penderita Diabetes

Seringkali seseorang dengan diabetes sangat terpengaruh oleh cerita tentang pengalaman orang lain yang juga mengalami diabetes bahwa dengan menjalani puasa Ramadhan orang tersebut akan merasa lebih sehat dari sebelumnya. Pengalaman orang lain tersebut, selayaknya harus disikapi secara bijaksana oleh orang yang mengalami diabetes. Keputusan untuk tetap menjalankan ibadah puasa pada akhirnya memang merupakan keputusan pribadi.
Namun seringkali disayangkan karena pada umumnya keputusan tesebut semata-mata diambil atas dasar keinginan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa dilengkapi dengan pemahaman mengenai bahaya yang mungkin timbul selama berpuasa. Kemungkinan timbulnya resiko tersebut memang sangat tergantung dari kondisi kesehatan setiap orang, seperti tinggi rendahnya kadar gula darah, pengobatan diabetes yang digunakan ataupun adanya penyakit lain yang mungkin menyertai. Oleh karena itu pemeriksaan secara medis sangat diperlukan bagi setiap orang yang mengalami diabetes sebelum memutuskan untuk berpuasa.
Secara umum, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan berpuasa bagi orang yang mengalami diabetes adalah sebagai berikut:
Personal. Perencanaan puasa merupakan hal yang harus dirancang berdasarkan kondisi setiap individu. Setiap orang yang mengalami diabetes memiliki kondisi diabetes yang unik sehingga sangat berbahaya untuk menerapkan pengalaman berpuasa orang lain kepada diri sendiri. Perbedaan pengobatan yang dijalani oleh seseorang dengan diabetes merupakan salah satu contoh dari keunikan tersebut. Oleh karena itu penting bagi orang diabetes untuk memahami obat-obatan apa yang digunakan selama ini, bagaimana cara kerjanya dan efeknya termasuk pengaruh obat tersebut selama berpuasa.
Memeriksa gula darah lebih sering. Untuk tujuan pemantauan resiko adanya hipoglikemi dan hiperglikemi selama puasa, seseorang dengan diabetes harus lebih sering memeriksakan gula darahnya.
Diet.Pada prinsipnya diet selama bulan puasa harus sama dengan diet sehari-hari, yaitu diet dengan menu seimbang dengan perhitungan kalori yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Juga disarankan untuk banyak minum pada malam hari dan memastikan bahwa makan sahur dilakukan seakhir atau selambat mungkin sebelum Imsyak tiba.
Aktifitas. Aktifitas normal sehari-hari perlu diperhatikan. Bagi orang dengan diabetes, kegiatan fisik yang berlebihan selama berpuasa dapat menyebabkan hipoglikemi sehingga harus dihindari. Shalat Taraweh merupakan salah satu contoh tambahan kegiatan fisik yang dilakukan selama bulan puasa dan perlu diwaspadai dapat menyebabkan timbulnya hipoglikemi. Oleh karena itu disarankan untuk makan seimbang sebelum shalat Taraweh.
Berbuka puasa. Orang dengan diabetes yang berpuasa harus segera membatalkan puasanya jika merasakan adanya gejala hipoglikemi. Disarankan agar orang diabetes selalu menyediakan bekal makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat sederhana (karbohidrat yang dapat diolah secara cepat menjadi gula di dalam tubuh, misalnya air yang mengandung gula, jus, atau roti putih) untuk segera dikonsumsi saat merasakan gejala hipoglikemi atau segera membatalkan puasa pada saat Magrib tiba. Hal ini sesuai dengan seruan Nabi yang berbunyi, ” “Senantiasa manusia itu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (H.R. Bukhori dan Muslim).
Medical check up Pra-Ramadan. Semua orang dengan diabetes yang berkeinginan untuk tetap berpuasa selama bulan Ramadhan sangat disarankan untuk menjalani pemeriksaan dan berkonsultasi kepada dokter ahli diabetes. Dokter terutama akan memeriksa pola kadar gula darah, tekanan darah, kadar kolesterol, fungsi ginjal dan fungsi hati. Melalui pemeriksaan ini akan diketahui apakah seorang dengan diabetes dapat berpuasa secara aman, seberapa besar resiko yang mungkin terjadi jika berpuasa, dan dokter akan melakukan penyesuaian dosis dan waktu penggunaan obat-obatan dan insulin untuk mengurangi resiko akibat berpuasa.
Edukasi dan Konseling. Selain melakukan pemeriksaan medis dengan dokter ahli diabetes, orang dengan diabetes perlu berkonsultasi kepada edukator diabetes seperti ahli gizi dan perawat edukator diabetes mengenai perawatan mandiri selama berpuasa, diantaranya adalah mengenai tanda dan gejala hipo/hiperglikemi, pemantauan gula darah, perencanaan makanan dan kegiatan sehari-hari selama berpuasa. Walaupun di Indonesia belum menjadi kebiasaan umum, orang dengan diabetes sangat disarankan untuk menggunakan gelang pengenal sebagai orang diabetes, sehingga jika terjadi sesuatu akan segera mendapatkan pertolongan yang tepat.
Sumber: Republika Online

Perencanaan Puasa untuk Penderita Diabetes

Seringkali seseorang dengan diabetes sangat terpengaruh oleh cerita tentang pengalaman orang lain yang juga mengalami diabetes bahwa dengan menjalani puasa Ramadhan orang tersebut akan merasa lebih sehat dari sebelumnya. Pengalaman orang lain tersebut, selayaknya harus disikapi secara bijaksana oleh orang yang mengalami diabetes. Keputusan untuk tetap menjalankan ibadah puasa pada akhirnya memang merupakan keputusan pribadi.
Namun seringkali disayangkan karena pada umumnya keputusan tesebut semata-mata diambil atas dasar keinginan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan tanpa dilengkapi dengan pemahaman mengenai bahaya yang mungkin timbul selama berpuasa. Kemungkinan timbulnya resiko tersebut memang sangat tergantung dari kondisi kesehatan setiap orang, seperti tinggi rendahnya kadar gula darah, pengobatan diabetes yang digunakan ataupun adanya penyakit lain yang mungkin menyertai. Oleh karena itu pemeriksaan secara medis sangat diperlukan bagi setiap orang yang mengalami diabetes sebelum memutuskan untuk berpuasa.
Secara umum, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan berpuasa bagi orang yang mengalami diabetes adalah sebagai berikut:
Personal. Perencanaan puasa merupakan hal yang harus dirancang berdasarkan kondisi setiap individu. Setiap orang yang mengalami diabetes memiliki kondisi diabetes yang unik sehingga sangat berbahaya untuk menerapkan pengalaman berpuasa orang lain kepada diri sendiri. Perbedaan pengobatan yang dijalani oleh seseorang dengan diabetes merupakan salah satu contoh dari keunikan tersebut. Oleh karena itu penting bagi orang diabetes untuk memahami obat-obatan apa yang digunakan selama ini, bagaimana cara kerjanya dan efeknya termasuk pengaruh obat tersebut selama berpuasa.
Memeriksa gula darah lebih sering. Untuk tujuan pemantauan resiko adanya hipoglikemi dan hiperglikemi selama puasa, seseorang dengan diabetes harus lebih sering memeriksakan gula darahnya.
Diet.Pada prinsipnya diet selama bulan puasa harus sama dengan diet sehari-hari, yaitu diet dengan menu seimbang dengan perhitungan kalori yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Juga disarankan untuk banyak minum pada malam hari dan memastikan bahwa makan sahur dilakukan seakhir atau selambat mungkin sebelum Imsyak tiba.
Aktifitas. Aktifitas normal sehari-hari perlu diperhatikan. Bagi orang dengan diabetes, kegiatan fisik yang berlebihan selama berpuasa dapat menyebabkan hipoglikemi sehingga harus dihindari. Shalat Taraweh merupakan salah satu contoh tambahan kegiatan fisik yang dilakukan selama bulan puasa dan perlu diwaspadai dapat menyebabkan timbulnya hipoglikemi. Oleh karena itu disarankan untuk makan seimbang sebelum shalat Taraweh.
Berbuka puasa. Orang dengan diabetes yang berpuasa harus segera membatalkan puasanya jika merasakan adanya gejala hipoglikemi. Disarankan agar orang diabetes selalu menyediakan bekal makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat sederhana (karbohidrat yang dapat diolah secara cepat menjadi gula di dalam tubuh, misalnya air yang mengandung gula, jus, atau roti putih) untuk segera dikonsumsi saat merasakan gejala hipoglikemi atau segera membatalkan puasa pada saat Magrib tiba. Hal ini sesuai dengan seruan Nabi yang berbunyi, ” “Senantiasa manusia itu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (H.R. Bukhori dan Muslim).
Medical check up Pra-Ramadan. Semua orang dengan diabetes yang berkeinginan untuk tetap berpuasa selama bulan Ramadhan sangat disarankan untuk menjalani pemeriksaan dan berkonsultasi kepada dokter ahli diabetes. Dokter terutama akan memeriksa pola kadar gula darah, tekanan darah, kadar kolesterol, fungsi ginjal dan fungsi hati. Melalui pemeriksaan ini akan diketahui apakah seorang dengan diabetes dapat berpuasa secara aman, seberapa besar resiko yang mungkin terjadi jika berpuasa, dan dokter akan melakukan penyesuaian dosis dan waktu penggunaan obat-obatan dan insulin untuk mengurangi resiko akibat berpuasa.
Edukasi dan Konseling. Selain melakukan pemeriksaan medis dengan dokter ahli diabetes, orang dengan diabetes perlu berkonsultasi kepada edukator diabetes seperti ahli gizi dan perawat edukator diabetes mengenai perawatan mandiri selama berpuasa, diantaranya adalah mengenai tanda dan gejala hipo/hiperglikemi, pemantauan gula darah, perencanaan makanan dan kegiatan sehari-hari selama berpuasa. Walaupun di Indonesia belum menjadi kebiasaan umum, orang dengan diabetes sangat disarankan untuk menggunakan gelang pengenal sebagai orang diabetes, sehingga jika terjadi sesuatu akan segera mendapatkan pertolongan yang tepat.
Sumber: Republika Online

PUASA DIABETES) “HUKUM PUASA BAGI PENDERITA DIABETES” /SAKIT GULA/KENCING MANIS


Jika Diabetes Menyebabkan Tidak Bisa Berpuasa, Haruskah Penderita Diabetes (Penyakit Gula) Meninggalkan Puasa? | Beberapa tips berpuasa bagi penderita diabetes






i

Rate This
Quantcast

Haruskah Penderita Diabetes (Penyakit Gula) Meninggalkan Puasa?

Sebuah pertanyaan dari seseorang di Aljazair dikirimkan kepada Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah:
Pertanyaan: Seseorang terkena penyakit gula (diabetes) dan telah disarankan oleh dokter untuk meninggalkan puasa, dikhawatirkan akan berpengaruh pada kesehatannya. Maka apa yang harus dia lakukan?
Jawab: Kami menasehatkan kepada penderita penyakit ini -semoga Allah Ta’ala membrikan kesembuhan dan kesehatan padanya serta memberinya kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya- kami nasehatkan agar tetap berpuasa, dan Allah Ta’ala adalah sebaik-baik penolong. Bisa jadi puasa yaang dia tunaikan akan menjadi sebab bertambahnya kesehatannya. Selama di mampu menjalankan puasa maka dia hendaknya bersegera menjalankannya.
Para dokter itu bisa jadi mengatakan demikian karena memandang jalan yang lebih hati-hati, tapi bisa jadi di antara para dokter ada yang berkata demikian karena dia memang tidak peduli dengan puasa. Di sana ada dokter yang berusaha memberikan image bahwa penderita diabetes sama sekali sudah tidak bisa puasa, dan ini tidak benar. Karena telah dilakukan penelitian terhadap beberapa penderita di berbagai tempat bahwa para peneliti memberikan hasilnya bahwa banyak penderita diabetes mampu menjalankan puasa.
Maka hendaknya bersegera untuk menunaikan puasa, karena ini adalah kesempatan yang besar bertemu dengan bulan puasa bulan yang penuh kemuliaan. Hendaknya dia berpuasa dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, karena bisa jadi dia merasa lemah, merasa takut kalau-kalau batal, mintalah tolong kepada Allah Ta’ala. Dan juga berusaha untuk tidak menggunakan hal-hal yang justru akan menjatuhkan dia pada perkara yang membatalkan puasa. Wallahu A’lam.

Jika Diabetes Menyebabkan Tidak Bisa Berpuasa
بسم الله الرحمن الرحيم
Sebuah pertanyaan disampaikan kepada Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhullah.
Pertanyaan: Saya seorang pria dan telah berusian 71 tahun, dan saya diuji dengan penyakit gula (diabetes) selama 7 tahun ini. Saya telah mencoba berobat dengan berbagai obat namun belum membawa manfaat bagi saya. Dan saya telah berusaha untuk berpuasa namun saya tidak mampu, saya berusaha lagi namun tetap tidak mampu. Maka ketika saya tidak mampu lagi puasa maka saya menggantinya dengan membayar fidyah. Apakah perbuatan saya ini benar? Apakah saya mencukupkan diri dari mencoba puasa dan cukup membayar fidyah? Jazakumullah khair.
Jawab: Segala puji bagi Allah Ta’ala, semoga shalawat dan salam tercurah bagi Rasulullah dan para pengikutnya, dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Amma ba’du.
Yang nampak dari pertanyaan ini, bahwa sang penanya tidaklah wajib untuk berpuasa karena Allah Ta’ala berfirman,
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Maka bertakwalah kalian sesuai dengan kemampuan kalian.”
Dia telah lanjut dalam usianya dan teruji dengan sakit gula, dan dia telah mencoba berpuasa namun tidak mampu, maka dia mengganti puasanya dengan memberi makan orang miskin (fidyah) setiap datang Ramadhan. Kecuali jika dia merasa membaik dan kuat puasa maka boleh baginya untuk puasa. Akan tetapi jika keadaannya seperti dalam pertanyaan maka dia membayar fidyah dan tiada dosa baginya dan tidak wajib puasa. Maka semuanya sesuai dengan kemampuan yang dia miliki karena Allah Ta’ala tidaklah membebani seorang muslim lebih dari kemampuannya.
Wallahu a’lam bishawab