Rabu, 18 Januari 2012

Kenali Gejala Diabetes

Diabetes melitus telah menjadi pandemi yang tumbuh dengan cepat. Penyakit ini diperkirakan menyebabkan empat juta kematian per tahun, hampir sama dengan kematian akibat HIV/AIDS. Data tahun 2000 menunjukkan diabetes melitus diderita 8,4 juta orang dan akan meningkat menjadi 21,3 juta pada tahun 2030.
Sebagian besar penderita diabetes (diabetesi) terdiagnosis pada keadaan lanjut. Padahal, menurut dr Budiman Darmowidjojo, SpPD, pada keadaan lanjut ini telah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, pembuluh darah, atau saraf. "Yang berbahaya dari penyakit ini bukan hanya gula darah yang tinggi, melainkan komplikasinya," paparnya.
Bila diabetes bisa didiagnosis sejak dini, maka kesempatan untuk mengendalikan gula darah akan lebih baik sehingga komplikasi dapat dihindari. Pendeteksian terhadap diabetes, yang utama, memang dari hasil pemeriksaan gula darah. Kadar gula darah dengan pemeriksaan setelah puasa di atas 126 dan gula darah dengan pemeriksaan sewaktu-waktu di atas 200 disebut diabetes.
Selain pemeriksaan laboratorium, menurut dr Budiman, ada tiga gejala klasik diabetes yang disebut juga dengan 3P, yakni:  

1. Poliuri
atau sering buang air kecil dengan volume yang banyak, apalagi pada malam hari. Mengapa demikian? Jika kadar gula darah melebihi nilai ambang ginjal atau lebih dari 180 mg/dl, maka gula akan keluar bersama urine. Untuk menjaga agar urine yang keluar, yang mengandung gula itu, tak terlalu pekat, tubuh akan menarik air sebanyak mungkin ke dalam urine sehingga volume urine yang keluar banyak dan kencing pun menjadi sering. Hal tersebut akan sangat sering sehingga pada malam hari bisa mengganggu tidur.  

2. Polidipsi
atau sering kali merasa haus dan ingin minum sebanyak-banyaknya. Dengan begitu banyaknya urine yang keluar, badan akan kekurangan air atau dehidrasi. Untuk mengatasi hal tersebut, timbullah rasa haus sehingga orang ingin selalu minum dan ingin yang dingin, manis, segar, dan banyak. Minuman manis akan sangat merugikan karena membuat kadar gula semakin tinggi.  

3. Polifagi
atau nafsu makan meningkat dan kurang tenaga. Pada diabetes, karena insulin bermasalah, pemasukan gula ke dalam sel-sel tubuh kurang sehingga energi yang dibentuk pun kurang. Itu sebabnya orang menjadi lemas. Dengan demikian, otak juga mengira bahwa kurang energi itu terjadi karena kurang makan. Oleh karena itu, tubuh berusaha meningkatkan asupan makanan dengan menimbulkan rasa lapar sehingga timbulah perasaan selalu ingin makan.

sumber : kompas.com

Minggu, 15 Januari 2012

Klinik Diabetes Terpadu



Klinik Diabetes Terpadu adalah pusat pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup para diabetisi

View Larger Map
Klinik Diabetes Terpadu
terletak di Walang sari 2 No:4 RT 011 RW 012- Jakarta Utara 14260 .
Telepon     : (021) 51290866         
Website     :  www.diabetesterapiterpadu.blogspot.com

Bookmark and Share

Rabu, 11 Januari 2012


Diabetes Melitus (DM) dengan luka diabetik (LD) atau luka gangren telah menjadi epidemi yang menyerang  dunia. Negara-negara yang padat penduduknya, merupakan Negara dengan pengidap DM dan LD  tertinggi di dunia dan Indonesia menempati peringkat 4. Kegemukan yang sering kali menyertai kasus DM menyerang seluruh lapisan masyarakat, baik kaum intelektual maupun orang awam, mulai dari kota metropolitan hingga ke kampung-kampung. Dahulu, penyakit tersebut dikenal sebagai penyakit orang kaya atau penyakit keturunan. Sekarang penyakit ini dikenal sebagai penyakit bagi mereka yang mengkonsumsi kalori tinggi, serta menjalani gaya hidup yang tidak sehat. Kegemukan dan DM sudah dikenal sebagai penyakit dengan luka yang sulit sembuh dan mempunyai komplikasi yang cukup ditakuti. Luka Diabetik stadium 3-4 dapat menyerang sendi sampai tulang. Sebagian besar kasus,umumnya ditangani dengan  amputasi. Namun, umumnya penyakit terus berlanjut hingga membutuhkan amputasi ulang. Amputasi bukanlah jalan satu-satunya untuk penanganan luka diabetik.              Penatalaksanaan luka diabetik dengan Panca Dasar “ Tayun Care “,  cara terapi Luka Diabetik yang ditemukan oleh Dr. Kompyang Rata, I Gusti Agung SpKK (K), merupakan kabar baik  bagi mereka yang tidak mau di amputasi